Jumat, 26 Februari 2010
Mungkinkah Bumiayu menjadi kota budaya?
Apresiasi masyarakat Bumiayu terhadap seni rupa dan sastra nampaknya masih sangat rendah.
Hal ini dibuktikan dengan sangat jarangnya penyelenggaraan pameran seni rupa maupun pagelaran pentas kebudayaan di Bumiayu, seolah-olah kota ini tidak memiliki gairah dan potensi di bidang seni dan budaya.
Salah satu faktor penyebabnya barangkali kurangnya perhatian yang serius dan langkah-langkah konkrit Dewan kesenian Brebes dalam memasyarakatkan seni. Padahal sederet nama-nama pelukis muda berbakat dan kreatif berdomisili di kota Bumiayu. Sebut saja misalnya Haris atau yang lebih akrab dipanggil Agep, Sobah, Yanto, Tono, Dede, Muhroji, Agus dan masih banyak lagi yang lainya. Mereka adalah aset yang dapat diandalkan apabila saja Dewan kesenian Brebes berniat serius dan komit untuk lebih menghidupkan dunia seni di Bumiayu.
Namun sejauh ini memang belum nampak langkah-langkah Dewan kesenian Brebes menuju ka arah sana.
Sehingga eksistensi para pekerja seni di Bumiayu sepertinya tenggelam dan stagnan, mereka tidak mendapatkan ruang yang memadai untuk mempublikasikan kreatifitas seninya.
Dan dengan sendirinya apresiasi masyarakat terhadap seni pun menjadi sangat rendah karena kurangnya penyelenggaraan pameran-pameran seni ataupun pagelaran pentas kebudayaan.
Seandainya saja Dewan kesenian Brebes mau lebih proaktif mengakomodir potensi-potensi seni yang ada, setidaknya hal ini akan dapat memperkaya khasanah seni budaya di Bumiayu.
Dan tidak menutup kemungkinan Bumiayu akan lebih dikenal lagi di kancah nasional, sebagaimana Sokaraja yang identik dengan gallery-gallery lukisan beraliran indie mooi yaitu lukisan panorama sawah dan pedesaan yang berlatar belakang pegunungan, selain Sokaraja juga dikenal sebagai kota getuk goreng dan soto.
Bumiayu mungkin dapat merintis kesana dengan langkah awal mewadahi para pelukis lokal terlebih dahulu, kemudian meningkatkan intensitas penyelenggaraan pameran seni dan pagelaran pentas kebudayaan, lalu mendirikan gallery seni sebagai sarana menampung karya-karya mereka, sehingga para pekerja seni dapat lebih bergairah lagi dalam berkarya.
Sebagaimana impian para penggiat seni lukis asal pakujati, Tono, Dede dan Agus sangat terobsesi untuk memiliki gallery lukisan.
Meskipun tidak harus berharap dan menunggu peran serta Dewan kesenian Brebes, disamping juga faktor financial merupakan kendala utama, namun berbekal panggilan jiwa seni dan semangat pengabdian yang tulus terhadap dunia seni lukis, kiranya impian mereka untuk memiliki gallery lukiasan bukanlah mustahil, bahkan suatu keharusan.
Mudah-mudahan dengan berdirinya gallery tersebut akan semakin meningkatkan kreatifitas dan produktifitas mereka di dalam berkesenian.
Selain juga diharapkan akan semakin menarik minat generasi muda untuk menggeluti seni lukis.
karangbawang february' 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar